120 Siswa baru Madrasah Insan Cendikia Jambi resmi dikukuhkan.

Matsama dan Uzlah merupakan tradisi yang sudah berlaku sejak berdirinya MAN Insan Cendekia Jambi. Matsama dan Uzlah bertujuan untuk mengubah prilaku siswa dari kebiasaan-kebiasaan “rumahan” menuju kepada kebiasaan-kebiasaan “nyantri” yang serba mandiri serta membentuk prilaku belajar siswa.
Pada masa pengasingan (Uzlah) selama 40 hari, siswa tidak diperbolehkan untuk berkomunikasi dengan kedua orangtua serta sanak keluarga, hal ini diharapkan agar siswa tersebut bermuhasabah (instropeksi) serta menumpuk rasa kerinduan dan kasih sayang yang mendalam kepada kedua orang tua yang secara emosional akan “tumpah” pada saat berakhirnya masa uzlah dengan prosesi membasuh kaki kedua orang tuanya.
Demi suksesnya program Matsama dan Uzlah ini, tentunya tidak terlepas dari pengertian dan kerjasama antar Madrasah dan orangtua siswa. Semoga program semacam ini menjadi alternative untuk membentuk karakter siswa MAN Insan Cendekia menuju kemandirian.

3 Siswa MAN Insan Cendekia ikuti PIRN LIPI

MAN  Insan  Cendekia  Jambi  terpilih  menjadi  peserta  Pekan  Ilmiah  Remaja Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PIRN LIPI) tahun 2019. Kegiatan tahunan yang diadakan  oleh LIPI  bekerjasama dengan pemerintah kabupaten  ini merupakan kegiatan  yang  ke XVIII  yang  dimulai  dari  tanggal  23  Juni  2019    hingga  30  Juni  2019  dan  bekerjasama  dengan Pemerintah  Kabupaten  Banyuwangi.  Kegiatan  PIRN  LIPI  XVIII  ini  merupakan  rangkaian kegiatan yang berisi pelatihan, workshop, pemberian materi dan kegiatan lapangan yang berkaitan dengan penelitian siswa yang terbagi dalam kelompok IPA dan IPS.

Pada pembukaan kegiatan yang turut di hadiri kepala LIPI dan Bupati Banyuwangi, “LIPI berkomitmen mendorong terciptanya budaya iptek generasi muda seagai generasi sains Indoensia. Hal  ini  juga  sejalan  dengan  kebijakan  pemerintah  untuk  memperkuat  Gerakan  Literasi  Sains” ujarKepala  lIPI,  Laksana  Tri  Handoko.  Hal  ini  juga  senada  apa  yang  disampaikan  oleh  Bupati Banyuwangi,  Abdullah  Azwar  Anas  dalam  sambutannya,  “Kami  berharap  kegiatan  ini  bisa memacu meningkatkan minat dan kemampuan remaja di bidang ilmu pengetahuan dan penelitian”. Harapannya  kegiatan  ini  dapat  menjadi  ajang  bagi  siswa  untuk  menggali  ilmu  sebaik  mungkin untuk pengembangan bidang penelitian disekolah dan madrasah.

Perwakilan  MAN  Insan  Cendekia  Jambi  dalam  kegiatan  PIRN  LIPI  2019  ini  adalah Muhammad  Adib  Alfathin  (asal  Wonogiri,  Jawa  Tengah,  kelas  XI  IIS),  Nabil  Makarim  (asal Kabupaten Sarolangun,  kelas XI IIS) dan Deka Oktaviana (asal Kabupaten Batanghari,  kelas X IIS)  yang  ketiganya  merupakan pengurus Student Researh Center MAN Insan Cendekia Jambi. Saat ditemui, Nabil sebagai salah satu peserta mengatakan bahwa kegiatan ini sangat memberikan pengalaman dan kegiatan yang sarat dengan materi penelitian. “Alhamdulillah senang sekali bisa ikut  kegiatan  ini,  banyak  teman,  banyak  materi  penelitian  dan  pengalaman  lapangan  dalam mencari data”, ujar Nabil. 

Kepala  MAN  Insan  Cendekia  Jambi,  Hendrisakti  Hoktovianus  saat  ditemui  di  kampus MAN Insan Cendekia Jambi mengatakan bahwa kegiatan Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional ini merupakan  kegiatan  yang  sangat  positif  dalam  pembentukan  dan  pengembangan  Sumber  Daya Manusia di MAN Insan Cendekia Jambi. “Kegiatan penelitian atau riset menjadi program strategis MAN  IC  Jambi  sehingga  tentu  kami  sangat  mendukung  siswa  kami  yang  berpartisipasi  dalam kegiatan  PIRN  LIPI  ini.  Harapannya,  ilmu  yang  didapat  dapat  diterapkan  di  MAN  IC  Jambi sebagai pilot-project madrasah berbasis riset” ujarnya. Pihak MAN Insan Cendekia Jambi juga sangat berterima kasih kepada pihak Komite MAN Insan Cendekia Jambi, Dinas Pendidikan Provinsi Jambi dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi  Jambi  yang  turut  serta  dalam  proses  keberangkatan  siswa  tersebut  baik  secara  moril maupun non-moril. Kedepan, harapannya kegiatan ini menjadi agenda rutin yang diikuti sebagai bentuk pembinaan siswa dalam bidang riset. (chw/kfh)

Angkat Isu tentang Orang Rimba,raih Medali Perunggu Bidang Karya Tulis

Mereka adalah Muhammad Adib Alfahin dan Nabil Makarim. Dua siswa MAN Insan
Cendekia Jambi yang mendapatkan penghargaan di bidang Social Sciences pada ajang Online
Science Project Competition (OSPC) yang diselenggarakan oleh Indonesian Youth Scientist
Association (IYSA) pada awal Januari lalu. Pada kompetisi ini, Adib dan Nabil (sapaan akrab
mereka –red) mendapatkan medali perunggu atas penelitian mereka mengenai kearifan lokal
Orang Rimba dalam mengelola kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas Jambi.
Penelitian ini diawali oleh ketertarikan Adib yang merupakan siswa kelas XI program
Ilmu Sosial (XI IIS 2) yang berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah. “Saya tertarik untuk membahas
Orang Rimba Pak, karena unik dan di tempat asal saya, Wonogiri, tidak ada masyarakat adat
seperti mereka.”, ujarnya. Untuk melakukan penelitian tentang Orang Rimba, ia menggandeng
putra daerah asal Sarolangun, yaitu Nabil Makarim yang merupakan siswa kelas XI Ilmu Sosial
(XI IIS 1). Akhirnya mereka sepakat untuk melakukan penelitian pada bulan April 2018 dengan
persiapan dari bulan Februari 2018. Agar penelitian ini lebih efektif dan efisien, pihak MAN
Insan Cendekia Jambi menunjuk Chairul Wahyudi, S. Pd sebagai pembimbing dikarenakan yang
bersangkutan pernah menjadi relawan pengajar Suku Anak Dalam Jambi. Serta Maryana, M. Pd
selaku Pembimbing II yang merupakan guru Bahasa Indonesia di MAN Insan Cendekia Jambi.
Penelitian yang dilaksanakan di Kantor KKI – Warsi (Kelompok Konservasi Indonesia –
Warsi) dan di Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) Jambi ini menghasilkan temuan bahwa
dalam menjaga, melestarikan dan memanfaatkan Hutan TNBD di Sarolangun, Jambi, Orang
Rimba memiliki seperangkat aturan tak tertulis yang disebut dengan Seloko Rimbo. Seloko
Rimbo inilah yang menjadi acuan bagi Orang Rimba dalam menentukan pemanfaatan lahan bagi
mereka. Dalam melaksanakan penelitian yang dilakukan selama lebih dari 3 bulan ini, 7 (tujuh)
hari dipusatkan di Sarolangun dan Taman Nasional Bukit Dua Belas Jambi agar peneliti benar-
benar mendapatkan data yang akurat. Selain mendapatkan data penelitian, Adib, Nabil dan guru
pembimbing bisa mengetahui kehidupan Orang Rimba dengan menyelami kehidupan sehari-hari
mereka di TNBD.